Minggu, 22 Januari 2012

Sikap Sederhana

Jadilah hebat, tapi tetaplah sederhana
Dalam menjalani hidup, manusia ditakdirkan secara berbeda-beda. Ada yang ditakdirkan miskin, ada juga  yang kaya. Ada yang ditakdirkan cantik atau tampan, namun ada juga yang ditakdirkan tidak seperti itu. Semua itu mempunyai hikmah, yang kebanyakan kita tidak mengetahuinya. Namun intinya, semua adalah ujian yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Allah subhanahu wa Ta’ala yang Maha Bijaksana mengetahui kadar keimanan, kemampuan dan kesanggupan seseorang. Nah, tidaklah manusia diuji melainkan sesuai dengan kadar itu. Tidaklah lebih baik, orang yang ditakdirkan kaya dengan orang yang ditakdirkan miskin. Tetapi juga tidaklah lebih baik orang yang ditakdirkan miskin dengan orang yang ditakdirkan kaya. Yang terbaik adalah orang yang mampu melewati ujian itu dengan sebaik-baiknya.
Namun, banyak manusia yang melalaikan hal tersebut. Banyak orang yang beranggapan bahwa kemuliaan itu berasal dari harta dan kedudukan. Yang menjadikan mereka, ketika mendapatkan kedua ujian tersebut menjadi lupa diri. Mereka beranggapan bahwa harta dan kedudukan yang mereka peroleh semata-mata jerih payah mereka sendiri.
Itulah salah satu ciri sikap angkuh. Sikap yang sangat buruk dan dibenci oleh Allah subhanahu wa Ta’ala. Buah dari sikap ini banyak sekali, diantaranya, sikap keras kepala terhadap kebenaran, menganggap dirinya yang paling tinggi, suka menghina, iri, dengki dan suka pamer.
Yang jadi pertanyaan adalah, apakah kita dilarang untuk memiliki harta dan memiliki kedudukan yang tinggi. Jawabannya adalah hal tersebut tidak dilarang, asalkan sesuai dengan kaidah dan aturan yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa Ta’ala. Boleh kita kaya atau berkedudukan tinggi, tetapi tidak boleh kita menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dengan hal tersebut.
Salah satu yang harus kita miliki adalah sikap sederhana ketika kita diuji dengan kedua hal tersebut.  Maksudnya adalah tetap seperti orang yang lain dan lebih berendah hati walaupun dalam kenikmatan kita mungkin ‘lebih’ daripada orang lain. Kita menunjukkan nikmat Allah subhanahu wa Ta’ala dengan tujuan mensyukurinya dan bukan pamer, tapi dengan syarat tidak berlebihan. Misalnya, kita diberi rizki berupa harta yang lumayan, kita mensyukurinya dengan berpenampilan yang rapi.
Ada sebuah kisah dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhu,  di dalam kitab Hilyah Al Aulia  I:302.  Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang pakaian seperti apa yang dipakai beliau. Beliau menjawab, “Aku memakai pakaian yang tidak membuat orang-orang bodoh memandangku hina dan tidak dicela oleh orang-orang yang sabar.” Laki-laki tersebut bertanya, “Apakah maksudnya?” Ibnu Umar menjawab, “Pakaian yang seharga antara 5 sampai 20 dirham.” Lihatlah, seorang imam besar mengajarkan kepada kita untuk bersikap biasa saja. Tidak terlalu merendah, juga tidak terlalu terlihat tinggi.                                                                                  
Tapi, terkadang sifat pamer seseorang menyebabkan sikap yang berlebihan.  Kita lihat, di jejaring sosial, banyak sekali orang yang memamerkan ‘kelebihan’ yang dia miliki. Terlihat bertebaran foto-foto narsis orang dengan menunjukkan hal  yang-mungkin-menurut mereka akan menaikkan status sosial. (Padahal belum tentu itu milik mereka, hehehe). Fenomena ini juga terjadi di dunia nyata. Betapa orang dengan gaji pas-pasan (atau tidak memiliki gaji?) rela bersusah payah untuk memiliki gadget terbaru agar dianggap ‘keren’, ‘gaul’ dan tidak ketinggalan jaman.
Saya bertanya-tanya dalam hati, apa manfaatnya melakukan hal-hal seperti itu? Justru menurut saya, ketika terjatuh kedalam hal tersebut , ada beberapa akibat negatif yaitu menyusahkan diri sendiri, membuat sombong, dan menciptakan kesenjangan sosial, menyebabkan iri hati sehingga dapat menimbulkan kriminalitas.
Mungkin, hal tersebut dilakukan karena menghindari celaan orang lain. Perhatikan, celaan manusia tidaklah berbahaya bagi kita, walaupun terkadang menyakitkan.  Apalagi celaan yang sifatnya ‘materialistis’ seperti itu. Manusia-manusia besar saja dicaci dan dicea, apalagi kita. Saran saya, jangan didengarkan.
Sikap pamer bukan cuma dalam hal kekayaan dan kedudukan, tapi juga dalam hal-hal yang lain, seperti ilmu, pemahaman, keahlian, banyaknya pengikut, dan masih banyak lagi. Contoh sikap ini adalah berlebih-lebihan dalam bicara, memfasih-fasihkan pembicaraan. Orang yang bijaksana, tidak akan berlebihan dalam segala hal. Orang yang bijaksana adalah orang yang tidak akan membanggakan sesuatu yang sifatnya fana. Harusnya kita menyadari kelemahan kita, apa yang kita bangga-banggakan itu dapat hilang dalam sekejab, kalau Allah subhanahu wa Ta’ala menghendaki.
Oleh sebab itu, bersikap sederhana akan menyelamatkan kita dari berbagai pengaruh buruk. Bersikap sederhana adalah salah satu dari ciri kerendahhatian. Kerendahhatian adalah ciri kebijaksanaan. Sedang kebijaksanaan adalah ciri kematangan jiwa kita.