Minggu, 22 Januari 2012

Ketidakberdayaan

Lari dari Masalah II: Ketidakberdayaan
Tidak semua hal didunia ini, membebaskan kita untuk memilihnya. Ada banyak sekali hal yang mau tidak mau kita harus menerimanya. Sebagai contoh, cacat tubuh yang mungkin kita derita, darimana keturunan kita dan lain-lain. Ada tiga macam perbedaan manusia dalam menyikapi hal tersebut. Yaitu, menerima dan pasrah kemudian berusaha dengan sebaik-baiknya, golongan yang kedua menerima dan hanya pasrah saja, dan yang ketiga, golongan yang menolak takdir.
Tentu saja golongan pertama yang paling ideal bagi kita. Tapi tidak semua orang bisa seperti itu. Walaupun begitu, yang paling penting adalah adanya harapan. Dengan adanya harapan, minimal membuat kita tidak berputus asa. Minimal ada sedikit semangat yang tumbuh. Dengan adanya harapan, kita menjadi lebih ‘berdaya’.  Tidak adanya harapan, menyebabkan kita tidak berdaya.
Nah, menurut saya, salah satu penyebab orang yang menerima dan hanya pasrah dengan takdir, tapi tanpa usaha dan orang yang menolak takdir  adalah ketidakberdayaan. Yaitu keyakinan bahwa masalah terlalu sulit untuk dihadapi. Padahal masalah tidak mungkin lebih besar dari dirinya. Sesuatu diciptakan seimbang dengan apa yang didampinginya. Sebuah masalah, diciptakan seimbang dengan orang yang dia ikuti.
Sebenarnya, esensi ketidakberdayaan adalah ketidakinginan kita meninggalkan zona nyaman. Zona nyaman kita adalah rasa aman. Ketika dengan membiarkan masalah, meninggalkan tanggung jawab, dan lain-lain kita anggap nyaman, itulah rasa aman. Padahal mungkin itu hanya sebuah ilusi. Apa yang kita yakini itu aman, belum tentu kenyataannya seperti itu. (Baca tulisan saya yang berjudul Lari dari Masalah).
Oleh sebab itu, semakin kita tidak ingin lepas dari zona nyaman, semakin kuatlah ketidakberdayaan itu. Orang-orang sukses adalah orang yang mampu melepaskan diri dari ketidakberdayaan mereka dan kemudian berbuat sebaik-baiknya , tetapi sesuai dengan kemampuan. Sebagai contoh, Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz, seorang tunanetra yang mampu menjadi seorang ulama besar dan Mufti kerajaan Saudi Arabia.
Hellen Keller juga contoh yang baik. Seorang yang buta, bisu dan tuli tetapi mampu menulis buku yang abadi. Seorang wanita, yang mungkin menurut orang lain tidak akan bisa melakukan apapun, bisa menepis anggapan tersebut dengan sesuatu yang menakjubkan, yang mungkin orang lain yang lebih sempurna fisiknyapun tidak bisa melakukannya.
Saya bisa menangkap hikmah dari hal tersebut, bahwa selemah apapun seorang manusia, pasti memiliki kekuatan yang tersembunyi.  Kekuatan ini, andaikata dibangkitkan, mampu menutupi kekurangan yang dimiliki, atau bahkan menjadikan kita ‘lebih’ dari pada orang lain.
Untuk membangkitkan kekuatan tersebut, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur dengan keadaan kita.  Masih banyak orang yang keadaannya lebih buruk dari kita saja mampu bersyukur, harusnya kita lebih dari itu.  Hal yang kedua, temukan kekurangan dan kelebihan kita.  Hal yang ketiga, meminta dukungan orang lain. Hal yang keempat, berani mencoba, dan hal yang terakhir, ketabahan. Dengan kelima hal ini, kekuatan tersembunyi insya Allah bisa kita gali.
Semoga saja dengan kekuatan tersebut, mampu membuat kita lebih berdaya. Untuk itu diperlukan berlatih secara terus menerus. Kekuatan komunitas dan inspirator juga sangat diperlukan. Dan yang paling penting adalah rasa tawakal kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga dengan itu, kita mendapatkan hasil yang terbaik.