Minggu, 19 Juni 2011

Download Mp3 Mayada Cahaya Rasul



Mungkin kiranya postingan ini sudah basi karena sekarang lagu sholawatan udah tidak ngetrend lagi, namun daripada gak ada yang diposting lebih baik dikeluarkan aja apa yang ada di benak otak saat itu.

Mayada adalah penyanyi Lagu sholawatan dengan judul Album Cahaya Rasul, Mayada merupakan saingan Sulis Haddad Alwi (Cinta Rasul) pada masanya, lagu Cahaya Rasul pun tak kalah enaknya dengan Cinta Rasul, Dibawah ini adalah daftar Lengkap Album Cahaya Rasul beserta Link Downloadnya

Mayada – Cahaya Rasul 1


01 Cahaya Rasul 1 – Assulatziyyatul Al-Muqoddasah.mp3
02 Cahaya Rasul 1 – Duuni.mp3
03 Cahaya Rasul 1 – Sholawat Qur’aniyyah.mp3
04 Cahaya Rasul 1 – Yaa Allah Yaa Azhiim.mp3
05 Cahaya Rasul 1 – Yaa Badrotim.mp3
06 Cahaya Rasul 1 – Zhoofir Yabnal Batoul.mp3

Mayada – Cahaya Rasul 2


01 Cahaya Rasul 2 – Ya Banil Musthofa.mp3
02 Cahaya Rasul 2 – Marhaban Ya Romadhon.mp3
03 Cahaya Rasul 2 – Birosulillah wal Badawie.mp3
04 Cahaya Rasul 2 – Huwannur.mp3
05 Cahaya Rasul 2 – ‘Alal Madinah.mp3
06 Cahaya Rasul 2 – Ya Khoiro Maulud.mp3
07 Cahaya Rasul 2 – Isyfa’lana.mp3
08 Cahaya Rasul 2 – Robbi Faj’alna Minal Akhyar.mp3

Mayada – Cahaya Rasul 3

01 Cahaya Rasul 3 – Anbiya Allah.mp3
02 Cahaya Rasul 3 – Fii Hubbin Nabi.mp3
03 Cahaya Rasul 3 – Nabiyal Huda.mp3
04 Cahaya Rasul 3 – Nasehat Al – Bushiri.mp3
05 Cahaya Rasul 3 – Rohmaka.mp3
06 Cahaya Rasul 3 – Sholla ‘Alaikallah.mp3
07 Cahaya Rasul 3 – Ya Imama Rusli.mp3
08 Cahaya Rasul 3 – Ya Robbi Ya Rohman.mp3
09 Cahaya Rasul 3 – Allah Allah.mp3

Mayada – Cahaya Rasul 4

01. Cahaya Rasul 4 – Ma Lana Siwallah.mp3
02. Cahaya Rasul 4 – Ya Hadie Sir Ruwaida.mp3
03. Cahaya Rasul 4 – Ummah.mp3
04. Cahaya Rasul 4 – Ya Saami Du’aana.mp3
05. Cahaya Rasul 4 – Al-Islam Salim Ya Salam.mp3
06. Cahaya Rasul 4 – Al-Qolbu Mutayyam.mp3
07. Cahaya Rasul 4 – Lie ‘Asyrotun.mp3
08. Cahaya Rasul 4 – Namadahul Hadie.mp3
09. Cahaya Rasul 4 – Ya Hadie Sir Ruwaida (Ust Madani).mp3

Mayada – Cahaya Rasul 5

01. Cahaya Rasul 5 – Nabiyyuna.mp3
02. Cahaya Rasul 5 – Natawassal Bil Hababah.mp3
03. Cahaya Rasul 5 – Busyro Lana.mp3
04. Cahaya Rasul 5 – Hayyul Haadie.mp3
05. Cahaya Rasul 5 – Nas’aluk Bil Ismil A’zhom.mp3
06. Cahaya Rasul 5 – Fityatal Haq.mp3
07. Cahaya Rasul 5 – Kalamun Qhodiem.mp3
08. Cahaya Rasul 5 – Nahran Min Laban.mp3


Mayada – Cahaya Rasul 6

01. Cahaya Rasul 6 – Ya Muhaimin Ya Salam.mp3
02. Cahaya Rasul 6 – Qod Kafaanie.mp3
03. Cahaya Rasul 6 – Syahrul Ramadhan.mp3
04. Cahaya Rasul 6 – Ad-Sinu Lana.mp3
06. Cahaya Rasul 6 – Jaa’as Shofa.mp3
07. Cahaya Rasul 6 – Haama Qolbi.mp3
08. Cahaya Rasul 6 – Ya Haadiyar Rukhbaan.mp3
09. Cahaya Rasul 6 – Syahrul Ramadhan (karaoke).mp3

Mayada – Cahaya Rasul 7

01. Cahaya Rasul 7 – Sholla Robbuna.mp3
02. Cahaya Rasul 7 – Salamy.mp3
03. Cahaya Rasul 7 – Sholatullah Ala Ahmad.mp3
04. Cahaya Rasul 7 – Hasby Robby.mp3
05. Cahaya Rasul 7 – Sholla Robbuna with Al-Hana.mp3
06. Cahaya Rasul 7 – Ya Allah Bil Qobul.mp3
07. Cahaya Rasul 7 – Assholatu Alannabi.mp3
08. Cahaya Rasul 7 – Ya Rasulullah Zurna.mp3
09. Cahaya Rasul 7 – Zoharoddien.mp3

Mayada – Cahaya Rasul 9

01 Cahaya Rasul 9 – Assalamu Alaik.mp3
02 Cahaya Rasul 9 – Khoirul Bariyah.mp3
03 Cahaya Rasul 9 – Maha Guru.mp3
04 Cahaya Rasul 9 – Miladu Ahmad.mp3
05 Cahaya Rasul 9 – Minal Maulana.mp3
06 Cahaya Rasul 9 – Ya Alabait Nabi.mp3
07 Cahaya Rasul 9 – Ya Allah Athlubak.mp3
08 Cahaya Rasul 9 – Ya Maulal Mawali.mp3
09 Cahaya Rasul 9 – Ya Sayyudi.mp3

Ki Sudrun- Cahaya Rosul

01. Yatim.mp3
02. Kalam Qodim.mp3
03. Gandrung.mp3
04. Wasiat.mp3
05. Bilalku.mp3
06. Doa’aku.mp3
07. Ling Eling.mp3
08. Kanjeng Rosul.mp3

Tentang Syi’ah Ja’fariyah – part 1/4

1.      Mazhab Syiah Ja’fariyah adalah sebuah kelompok besar dari umat Islam pada masa sekarang ini, dan jumlah mereka diperkirakan ¼ jumlah umat Islam. Latar belakang sejarahnya bermuara pada masa permulaan Islam, yaitu saat turunnya firman Allah swt. surat Al-Bayyinah ayat 7 :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi. (QS. Al Bayyinah [98]:7)
Selekas itu, Rasulullah saw. meletakkan tangannya di atas pundak Ali bin Abi Thalib a.s., sedang para sahabat hadir dan menyaksikannya, seraya bersabda: “Hai Ali!, Kau dan para syi’ahmu adalah sebaik-baiknya penduduk bumi”. [1]
Dari sinilah, kelompok ini disebut dengan nama “syi’ah”, dan dinisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq a.s. karena mengikuti beliau dalam bidang fiqih.
2.      Banyak dari kelompok ini yang tinggal di Iran, Irak, Palestina, Afganistan, India, dan tersebar secara luas ke negara-negara republik yang memisahkan diri dari Rusia, juga ke negara-negara Eropa, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Amerika, dan Benua Afrika serta Asia timur. Mereka memiliki masjid-masjid, Islamic Center,  pusat-pusat kegiatan budaya dan sosial.
3.      Kaum Syi’ah Ja’fariyah terdiri dari bangsa, suku, bahasa dan warna yang berbeda-beda. Mereka hidup secara berdampingan dengan saudara-saudara muslim yang lain dari golongan dan mazhab yang berbeda dengan penuh kedamaian dan kasih sayang. Dan mereka saling  mem-bantu dan bekerja sama di segala bidang dengan penuh
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Sesungguhya orang-orang mukmin adalah saudara. (QS. Al-Hujurat  [49]:10)
Dan firman Allah swt.:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى
Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa”. (QS. Al-Maidah [5]:ٰ)
Dan berpegang teguh pada sabda Nabi saw.:  “Orang-orang muslim – satu sama lainnya- laksana tangan yang satu”. [2] Juga sabda yang lain dari beliau: “Orang-orang mukmin (satu sama lainnya) seperti satu tubuh”.[3]
4.      Sepanjang sejarah Islam, mereka memiliki sikap disegani dan posisi yang cemerlang dalam membela Islam dan kaum muslimin. Mereka juga telah mampu mendirikan pemerintahan-pemerintahan dan negara-negara yang ber-khidmat pada peradaban Islam. Begitu juga, mereka memiliki ulama-ulama serta ahli-ahli yang telah menyum-bangkan tenaga dan seluruh pikiran mereka untuk memperkaya warisan-warisan Islam; dengan cara menulis ratusan ribu karangan, buku-buku kecil dan besar di bidang tafsir Al-Quran, hadis, akidah, fiqih, ushul fiqih, akhlak, dirayah, rijal, filsafat, nasihat-nasihat, sistem pemerintahan dan kemasyarakatan, bahasa dan sastra bahkan kedokteran, fisika, kimia, matematika, astronomi, ilmu-ilmu biologi, dan cabang-cabang ilmu lainnya. Dalam berbagai disiplin ilmu mereka memainkan peran sebagai perintis dan pencetus berbagai bidang keilmuan.[4]
5.      Mereka percaya kepada Allah Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, serta tak ada sekutu bagi-Nya. Mereka menafikan dari Dzat Allah swt. segala sifat-sifat kebendaan, anak, tempat, zaman, perubahan, gerak, naik dan turun, dan lain sebagainya yang tidak layak bagi keagungan, kesucian, kesempurnaan dan keindahan-Nya. Mereka juga meyakini bahwa hanya Dialah yang layak disembah, bahwa hukum serta syariat hanyalah milik dan hak-Nya, dan bahwa kemusyrikan dengan segala macam-nya, secara terbuka maupun rahasia—adalah  kezaliman yang amat besar dan dosa yang tak terampunkan.
Mereka percaya akan semua ini dapat dibuktikan atas dasar akal yang sehat yang sejalan dengan Al-Quran dan hadits shahih; dari manapun sumbernya. Mereka tidak bersandar pada hadis-hadis Israiliyat dalam bidang akidah, tidak pula mengambil ajaran dari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang Majusi; yang menggam-barkan Allah swt. dalam bentuk manusia, menyerupakan-Nya dengan makhluk-makhluk, atau menyandarkan perbuatan zalim dan kesia-siaan kepada-Nya. Sesung-guhnya Allah Maha Suci dan Maha Luhur dari apa yang mereka duga atau menisbatkan perbuatan tercela kepada para nabi a.s. secara mutlak.
6.      Mereka meyakini bahwa Allah swt. Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menciptakan alam semesta atas dasar  keadilan dan kebijaksanaan. Dia tidak pernah mencip-takan sesuatu secara sia-sia, baik benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, langit atau bumi, karena kesia-siaan itu bertentangan dengan keadilan dan kebijaksanaan, juga bertentangan dengan sifat-Nya yang melazimkan setiap kesempurnaan yang niscaya dimiliki-Nya, serta melazimkan penafian segala kekurangan dari Dzat-nya.
7.      Mereka meyakini bahwa Allah swt.—dengan keadilan dan kebijasanaan-Nya—telah mengutus kepada manusia para nabi dan rasul yang diangkat sebagai manusia-manusia maksum dan memiliki pengetahuan yang luas, yang bersumber dari wahyu untuk memberi hidayah kepada manusia, membantu mereka mencapai kesem-purnaan yang diharapkan, dan mengarahkan mereka kepada ketaatan yang menurunkan surga, dan menyam-paikan mereka kepada rahmat dan keridhaan Allah swt.
Di antara para nabi dan rasul itu adalah Adam a.s., Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s. dan nama-nama lainnya yang telah disebutkan oleh Al-Quran, atau yang ada disebutkan nama dan keadaan-keadaan mereka dalam hadis-hadis yang mulia..
8.      Mereka percaya bahwa siapa yang taat kepada Allah swt. dan melaksanakan perintah-perintah dan aturan-aturan-Nya di segala bidang kehidupan, ia akan selamat dan beruntung, serta layak mendapatkan pujian dan pahala,. meskipun ia hamba sahaya dari Afrika. Dan sebaliknya, siapa yang bermaksiat kepada Allah swt. dan pura-pura bodoh terhadap segala perintah-Nya dan menerapkan hukum-hukum selain hukum-hukum Allah, ia akan rugi dan binasa, dan layak mendapatkan hujatan dan siksa, meskipun ia seorang tuan atau sayyid dari bangsa Quraisy, sebagaimana yang terdapat dalam hadis Nabi saw.
Mereka meyakini bahwa tempat pahala dan siksa adalah Hari kiamat, yang di dalamnya terdapat hari perhitungan, timbangan, surga, dan neraka. Dan hal itu akan terjadi setelah melewati alam kubur dan alam barzakh. Mereka juga menolak reinkarnasi (tanâsukh) yang dianut oleh sebagian pengingkar Hari Kebangkitan,  karena mempercayainya berarti mendustakan Al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw.
9.      Mereka meyakini bahwa nabi, rasul terakhir dan yang paling utama adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib saw., yang telah dijaga dari kesalahan dan ketergelinciran, dan Allah telah memeliharanya dari segala maksiat, baik yang besar maupun yang kecil, sebelum dan sesudah menjadi nabi, dalam tablig maupun di luar tablig. Dan Allah swt. telah menurunkan kepada-nya Al-Quran untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia sepanjang masa. Nabi saw. telah meyampaikan risalah-Nya dan menunaikan amanat-Nya dengan benar dan ikhlas. Kaum Syi’ah mempunyai puluhan ribu karya di bidang penulisan siroh nabawi, kepribadian, sifat-sifat, keistimewaan dan mukjizat-mukjizat  Nabi saw. [5]
10.  Mereka meyakini bahwa Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah saw. melalui Jibril a.s. dan ditulis oleh sekelompok sahabat-sahabat besar generasi pertama. Di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib a.s. pada masa Nabi saw. dan melakukan penulisan wahyu di bawah pengawasannya. Dan karena perintah dan petunjuknya, mereka menghafal dan menyempurnakannya, menghitung huruf-hurufnya, kata-katanya, surat-surat dan ayat-ayatnya. Dan mereka menurunkan ke generasi berikutnya. Kitab suci inilah yang dibaca umat Islam saat ini dengan berbagai macam kelompok, siang dan malam, tanpa ada penambahan, pengurangan dan perubahan. Dan kaum Syi’ah dalam bidang ini memiliki karya-karya tulis yang banyak,  baik yang besar maupun yang kecil.[6]
Bersambung…..

Fadilah sholawat



139 kali Di baca

Penghapus Dosa

Sholawat ke atas Junjungan Nabi s.a.w. adalah antara sebesar-besar amalan yang menjadi kaffarah bagi noda dosa kecil yang kita lakukan. Dosa-dosa kecil bilangannya amat banyak menjadikan ianya sukar dihindari bahkan kadangkala tak sedar atau tak terasa pula kita yang sesuatu perbuatan yang kita lakukan itu merupakan satu dosa di sisi Allah s.w.t. Manakala sikap memperlekehkan atau meremehkan dosa kecil adalah satu dosa besar yang memerlukan kita memohon ampun dengan bertaubat kepada Allah at-Tawwab. Oleh itu, jangan sesekali meremehkan sesuatu dosa, baik kecil apatah lagi yang besar. Begitu pula jika dibiarkan dosa-dosa kecil itu berkumpul sehingga berlonggok-longgok dan bertimpa-timpa lalu menggelap serta menghitamlegamkan hati sanubari menjadikannya keras seperti batu. Atau dosa-dosa tersebut dilakukannya berulang-ulang, tanpa dikaffarahkannya dengan amalan sholeh atau dengan taubat kepada Allah, ianya juga menjadikan dosa-dosa tersebut sebagai dosa besar, sebagaimana dinyatakan oleh Hujjatul Islam al-Ghazali dalam “al-’Arba`in fi Ushuliddin“:-
و الإصرار على الصغيرة أيضا كبيرة
فلا صغيرة مع إصرار و لا كبيرة مع رجوع و استغفار

“Berkekalan atas dosa-dosa kecil adalah juga dosa besar. Maka tidaklah dikatakan dosa kecil jika ianya dikekalkan dan tidaklah dikatakan dosa besar jika ianya ditaubati dan dipohon keampunan Allah.”
Berbalik kepada sholawat, maka telah masyhur beberapa hadis yang menyatakan ianya menjadi kaffarah dan penghapus bagi noda dosa. Sebagai tambahan sahaja kepada hadis-hadis yang telah masyhur tersebut, satu nukilan dari “asy-Syifa`” karya Qadhi ‘Iyadh al-Yahsubi, sebuah atsar yang dinisbahkan kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. yang menyatakan:-
الصلاة على النبي صلى الله تعالى عليه و سلم
امحق للذنوب من الماء البارد للنار
و السلام عليه افضل من عتق الرقاب
Ucapan sholawat ke atas Junjungan Nabi s.a.w. dapat memadamkan yakni menghapuskan dosa lebih daripada air sejuk memadamkan api. Ucapan salam kepada baginda lebih afdhal daripada memerdekakan hamba sahaya.
Maka sewajarnya kita hamba yang dosanya sudah bertimpa-timpa memperbanyakkan sholawat dan salam ke atas Junjungan Nabi s.a.w. Apatah lagi pada malam dan hari Jumaat, hari dan malam di mana ganjaran amalan digandakan Allah. Kita sedia maklum dari hadis-hadis yang biasa kita dengar menyatakan bahawa bagi setiap ucapan sholawat kita ke atas Junjungan akan diberi balasan 10 kali lipat oleh Allah s.w.t. Di samping itu ada juga riwayat yang menyatakan bahawa balasan bagi setiap sholawat diberi balasannya oleh Allah dengan 70 kali ganda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya yang menyatakan:-
من صلى على النبي صلى الله تعالى عليه و سلم مرة
صلى الله تعالى عليه بها سبعين مرة
“Sesiapa yang bersholawat ke atas Junjungan Nabi s.a.w. sekali, maka Allah akan merahmatinya 70 kali” .
Mulla ‘Ali al-Qari dalam syarahnya kepada kitab “asy-Syifa`“, menyatakan bahawa kedua-dua hadis tersebut tidaklah bercanggah kerana gandaan 70 kali tersebut berkemungkinan adalah bagi sholawat yang dilakukan pada hari Jumaat. Beliau menyatakan, antara lain:-
إن هذه المضاعفة تكون بخصوص يوم الجمعة
اذ قد ورد ان الأعمال كلها تضاعف فيه بسبعين ضعفا
و هو يؤيد ما ورد انه اذا وافق يوم عرفة يوم الجمعة
كان حجه بسبعين حجة
Bahawasanya gandaan pahala ini berlaku kerana kekhususan hari Jumaat yang mana telah warid bahawa segala amalan pahalanya diganda 70 kali ganda pada hari Jumaat. Dan ianya menguatkan apa yang warid bahawasanya apabila bertepatan hari ‘Arafah (hari wuquf) dengan hari Jumaat, maka ganjaran hajinya akan diganda dengan pahala 70 kali haji.
Allahu … Allah, moga penghulunya segala hari kita ini dipenuhi dengan ucapan sholawat dan salam ke atas Junjungan Nabi s.a.w.

Habib Ahmad Masyhur

Baqiyyatus Salaf wa Sayyidul Khalaf, Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad adalah seorang ulama, wali dan da`i dari keturunan Habib ‘Umar bin ‘Alawi al-Haddad yang merupakan adik bongsu kepada Habib Abdullah al-Haddad. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1325H di Qaydun oleh seorang hababah sholehah lagi hafaz al-Quran iaitu Hababah Shofiyyah binti Thohir bin ‘Umar al-Haddad.
Habib Ahmad Masyhur telah mendapat didikan dan asuhan agama sedari kecil lagi. Beliau menimba ilmunya dari ibunya dan lain-lain ulama termasuklah belajar kepada pendiri Rubath Qaydun dua bersaudara iaitu Habib ‘Abdullah bin Thohir al-Haddad dan saudaranya Habib ‘Alwi bin Thohir al-Haddad. Di bawah dua ulama ini, Habib Ahmad mendalami lagi pengetahuan agamanya dalam bidang fiqh, tawhid, tasawwuf, tafsir dan hadis. Dalam usia muda, beliau telah hafal al-Quran dan menguasai berbagai lapangan ilmu agama sehingga diberi kepercayaan untuk mengajar pula di rubath tersebut. Habib Ahmad yang tidak pernah jemu menuntut ilmu turut menangguk ilmu di Rubath Tarim dengan para ulama yang mengajar di sana.Tatkala berusia awal 20-an, Habib Ahmad telah dibawa oleh gurunya Habib ‘Alwi bin Thohir al-Haddad ke Indonesia. Di sana selain berdakwah, beliau meneruskan pengajian dengan ramai lagi ulama di sana, antaranya dengan Habib ‘Abdullah bin Muhsin al-’Aththas, Habib ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad dan Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar.
Sekitar tahun 1350H, Habib Ahmad berhijrah ke Afrika Timur untuk berdakwah dan menyebar risalah nendanya yang mulia, Junjungan Nabi s.a.w. Beliau menetap di Mombasa, Kenya, dan dari situlah beliau melancarkan dakwahnya ke seluruh pelosok benua Afrika. Pada tahun 1375H, beliau berhijrah pula ke Kampala, Uganda dan menetap di situ sekitar 13 tahun. Habib Ahmad dengan sungguh-sungguh dan gigih telah menghabiskan masanya untuk berdakwah menyeru umat kepada agama yang diredhai sehingga dikatakan sepanjang beliau berada di Afrika, puluhan ribu penduduk di sana, bahkan setengah mengatakan jumlah tersebut menjangkau ratusan ribu, yang memeluk agama Islam ditangannya. Di samping itu beliau turut mengorbankan harta bendanya untuk agama dengan membangunkan banyak masjid dan madrasah dalam rangka dakwahnya di sana.
Hari Rabu, 14 Rajab 1416H bersamaan 6 Disember 1995M, Habib Ahmad telah dipanggil kembali ke rahmatUllah di Jeddah. Setelah disembahyangkan di Jeddah dengan diimamkan oleh almarhum Habib Dr. Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani dengan kehadiran Habib ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, jenazahnya yang mulia telah dibawa ke Makkah dan disholatkan sekali lagi di hadapan Ka’bah al-Musyarrafah sebelum dimakamkan di Jannatul Ma’la. Selain meninggalkan ribuan murid, Habib Ahmad turut meninggalkan beberapa karangan antaranya:
  1. Miftahul Jannah;
  2. Majmu` Fatawa;
  3. Syarh Nadzam Sa`id bin Nabhan;
  4. ad-Durratun Nafi`ah; dan
  5. as-Sabhatuts Tsaminah.
Di samping itu, beliau turut meninggalkan beberapa rangkaian ucapan sholawat yang indah dan penuh asrar dan keberkatan. Antara sholawat gubahan Habib Ahmad adalah satu sholawat yang menyebut penciptaan Junjungan Nabi s.a.w. daripada nur kepunyaan Allah, yang berbunyi:-
Wahai Allah, Tuhan sumber cahaya alam semesta
Limpahkan sholawat atas Junjungan yang Engkau cipta
Dari nur milikMu ciptaan indah tiada tara
Dan ampunilah aku serta sinarilah hatiku yang alpa
Dengan makrifatMu terang bercahaya
Juga dengan makrifatnya akan diriMu yang Maha Mulia
Atas keluarga serta sahabat baginda limpahkanlah sama
Limpahan sholawat dan salam sejahtera
Akhirul kalam, dengarlah cuplikan ceramah Sidi Yahya Rhodusyang, antara lain, menceritakan bahawa Habib Ahmad Masyhur al-Haddad telah mengIslamkan 300,000 orang selama dakwahnya di Afrika Timur…Allahu ..Allah. Moga Allah sentiasa mencucuri rahmat dan keredhaanNya ke atas Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad serta para leluhurnya. Allahumma aamiin .. al-Fatihah.
******************************************

Membaca Sholawat

Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah.Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.
Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama.
Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.
Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam.
Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)
Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:
وَأخْرَجَ ابْنُ مُنْذَة عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنهُ أنّهُ قال قال َرسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: مَنْ صَلّى عَلَيَّ كُلّ يَوْمٍ مِئَة مَرّةٍ – وَفِيْ رِوَايَةٍ – مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي اليَوْمِ مِئَة مَرّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِئَة حَجَّةٍ – سَبْعِيْنَ مِنْهَا في الأخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ فِي الدُّنْيَا – إلى أنْ قال – وَرُوِيَ أن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عليه وسلم قال : اكْثَرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ فَإنّهَا تَحِلُّ اْلعَقْدَ وَتَفْرجُ الكُرَبَ – كَذَا فِيْ النزهَةِ
Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam babshalawat ‘ala an-Nabi).
Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.
Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)
Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta

**********************************

Menzuma ” Ya Habibi Salamu ‘Alaikum

Menzuma by Haji Mohamed Idris Siraj – “Ya Habibi Salamu ‘Alaikum “
Menzuma is an Ethiopian Islamic Sufi devotional chant that contains remembrances of Allah (God), and praises of the Prophet Mohammed (PBUH). From Ethiopia to Russia, from Johannesburg to Indonesia. The Mawlid or the Milaad is being celebrated with great intensity and fervor. In these gatherings participants recall the Prophet’s birth, his life story (sirah) and his great character are extolled, as Allah said in the Holy Qur’an:- “We sent you not but as a Mercy to all the worlds.” (21:107).
Mosques are decorated with lights, streamers and banners and every night of Rabi` al-Awwal is filled with the chanting of Qur’an and the melodious recitation of Mawlid, praising the Prophet (Peace be upon him), and sending Salaams on him, as Allah’s order: “O you who believe, pray on him with all respect” follows Allah’s declaration that: “Allah and His angels are praying on the Prophet” (Holy Qur’an 33:56).

Sholawat 1000 Kali

Memperbanyakkan sholawat ke atas Junjungan Nabi s.a.w. adalah tuntutan agama. Orang-orang sholeh sentiasa membasahkan lidah mereka dengan berbagai ucapan mulia termasuklah sholawat dan salam ke atas Junjungan Nabi s.a.w. Oleh itu janganlah kita lalai untuk bersholawat ke atas Junjungan Nabi s.a.w. , lebih – lebih lagi pada masa-masa yang penuh keberkatan seperti hari dan malam Jum`at yang mulia, apatah lagi dalam bulan kelahiran Junjungan Nabi s.a.w.
Imam Abu Nu`aim dalam “al-Hilyah” dan Imam ath-Thabrani telah meriwayatkan satu atsar daripada Sayyidina ‘Abdullah ibnu Mas`ud r.a. di mana beliau telah berpesan kepada Zaid ibnu Wahb sebagai berikut:
يا زيد ، لا تدع إذا كان يوم الجمعة أن تصلي على النبي صلى الله عليه و سلم ألف مرة، تقول: اللهم صل على محمد النبي الأمي
“Wahai Zaid, apabila hari Jum`at janganlah engkau tinggalkan bersholawat kepada Junjungan Nabi s.a.w. sebanyak 1000 kali, dengan katamu: “ اللهم صل على محمد النبي الأمي“.
Begitulah pesanan sahabat yang mulia agar umat sentiasa ingat kepada Junjungan Nabi s.a.w. dengan memperbanyakkan sholawat terutama sekali pada saat-saat yang mulia seperti hari Jum`at. Terdapat juga riwayat yang dinisbahkan oleh Imam as-Sakhawi dalam “al-Qaulul Badii`” halaman 379, kepada Ibnu Syahin, yang walaupun berdarjat dhoif tetap punya nilai untuk fadhoilul a’maal, di mana Junjungan Nabi s.a.w. bersabda:-
من صلى علي في يوم الجمعة ألف مرة،
لم يموت حتى يرى مقعده من الجنة
“Sesiapa yang bersholawat ke atasku pada hari Jum`at 1000 kali, tidaklah dia mati sehingga dia melihat tempatnya dalam syurga.”
Sesungguhnya orang yang banyak bersholawat akan memperolehi kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tidaklah rugi bagi kita untuk banyak bersholawat walaupun riwayat di atas tidak tsabit. Marilah kita perbanyakkan sholawat.
**********************************
اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي
Dicatat oleh Abu Muhammad di 9:03 PM 0 ulasan 

Kiyai Ahmad Qusyairi

Kiyai Ahmad Qusyairi bin Shiddiq bin ‘Abdullah bin Saleh bin Asy`ari bin Muhammad Adzro`i bin Yusuf bin Sayyid ‘Abdur Rahman (Mbah Sambu) bin Sayyid Muhammad Hasyim bin Sayyid ‘Abdur Rahman BaSyaiban bin Sayyid ‘Abdullah bin Sayyid ‘Umar bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Abu Bakar BaSyaiban bin Sayyid Muhammad AsadUllah bin Sayyid Hasan at-Turabi bin Sayyid ‘Ali bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad Ba ‘Alawi al-Husaini adalah salah seorang ulama terkenal di Tanah Jawa. Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Sumbergirang yang terletak dalam Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada 11 Sya’baan 1311H / 17 Februari 1894M. Beliau memulakan pengajian agamanya dengan ayahanda beliau yang sememangnya terkenal sebagai seorang ulama. Pengajian agamanya diteruskannya ke beberapa buah pondok pesantren antaranya di Langitan Tuban, Kajen Pati (Kiyai Khozin), Semarang (Kiyai Umar) dan Syaikh Kholil Bangkalan. Beliau mempunyai hubungan yang amat rapat dengan Syaikh Kholil Bangkalan yang terkenal sebagai ulama terbilang lagi wali.
Dikisahkan, suatu malam pada akhir Ramadhan, Syaikh Kholil menyuruh segenap santrinya mencari Lailatul Qadar. Tidak seperti santri lainnya yang melakukan riyadhah sepanjang malam, Kiyai Ahmad Qusyairi justru sebaliknya. Setelah melakukan riyadhah ala kadarnya, beliau tertidur di teras masjid. Tak lama kemudian, menjelang Shubuh, Syaikh Kholil berkeliling mengitari pesantren. Tiba-tiba beliau melihat seberkas cahaya datang dari atas, lalu jatuh ke salah seorang santri yang sedang tidur. Karena suasana gelap gulita, ia hampiri santri itu lalu mengikat salah satu ujung sarung yang dikenakan, sebagai tanda.Selepas shalat Shubuh, Syaikh Kholil membuat pengumuman: “Siapa di antara kalian yang sarungnya ada bundelan (tali simpul) nya?”, setelah ditunggu agak lama, tak satu pun santri yang menjawab, termasuk Kiyai Ahmad Qusyairi yang tak menyadari dialah yang dimaksud. Setelah mengetahui salah satu ujung sarungnya tersimpul, dia justru ketakutan. Tetapi karena Syaikh Kholil bertanyakan lagi, dia pun mengaku dengan penuh ketakutan, kerana Syaikh Kholil memang terkenal dengan ketegasannya. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Syaikh Kholil tidak marah, malah tersenyum sambil berkata: “Mulai sekarang kalian (semua santri) tak payah lagi mengaji kepadaku. Cukup mengaji pada Ahmad Qusyairi.” Mendengar itu Kiyai Ahmad Qusyairi seakan tak percaya, dan sejak itu, para santri mengaji kepadanya. Di kemudian hari, beliau terkenal memiliki ilmu ladunni, di mana kemampuan ilmu didapatkan tanpa melalui proses belajar sebelumnya, tetapi kerana kemurahan Allah semata-mata.
 Di antara kelebihan Kiyai Ahmad Qusyairi adalah kemampuannya menguasai berbagai bahasa selain bahasa ibundanya dan Bahasa Arab. Antara bahasa yang dikuasainya ialah Bahasa Belanda, Bahasa Inggeris, Bahasa Jepun dan Bahasa Cina. Beliau juga dikenali sebagai penyair yang mahir membuat dengan spontan syair-syair berbahasa Arab. Antara karangan yang ditinggalkannya ialah sebuah nazam sufi yang berjumlah 312 bait diberi jodol “Tanwir al-Hija” berhubung ‘aqidah dan ibadah. Karangannya ini diberi perhatian oleh para ulama, bahkan Habib Alawi bin ‘Abbas al-Maliki, ayahanda Buya Dr. Habib Muhammad al-Maliki, telah memberikannya syarah yang panjang diberi jodol ” Inarat ad-Duja“. Dan kerana besarnya kecintaannya kepada Junjungan Nabi s.a.w. dan amalan bersholawat kepada baginda, maka selain mengamalkan “Dalailul Khairat“, beliau juga mempunyai himpunan sholawat yang dinamakannya “al-Wasiilatul Harriyyah fish Sholawaati ‘ala Khairil Bariyyah“.Kiyai Ahmad Qusyairi gemar berkelana untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu. Beliau juga berjaya membangun beberapa buah masjid di tempat-tempat yang dikunjunginya. Setelah berkahwin dengan puteri Kiyai Yaasin, maka tugas mengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan diserahkan kepadanya. Beliau meninggalkan dunia yang fana ini pada
22 Syawal 1392H / 28 November 1972M, dengan meninggalkan seramai 15 orang anak antaranya Syaikhunal Mukarram Kiyai ‘Abdur Rahman bin Ahmad Qusyairi hafizahUllah. Jenazah beliau dimakamkan di kawasan pemakaman belakang Masjid Jami` al-Anwar, Pasuruan. Mudah-mudahan Allah sentiasa membasahikan makamnya dengan siraman hujan rahmat dan kasih sayang. Al-Fatihah.
*******************************************************

Inilah Sholawat Shiddiqiyyah yang tertulis pada akhir halaman kitab “al-Wasiilatul Hariyyah” di mana ianya mengandungi permohonan, dengan berwasilahkan amalan sholawat ke atas Junjungan serta kehormatan Junjungan Nabi dan sahabat baginda Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq r.a., agar dianugerahkan teman yang baik, perjalanan yang aman, kelepasan dari segala kesulitan dan kepayahan. sumber artikel salafytobat.wordpress.com

Random Artikel

Suka!
1

Kisah Rosullulloh mendapatkan LAILATUL QODAR DIMALAM 27


Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk i’tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir Bulan Suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW ini. Beliau berdiri shalat mereka juga shalat, beliau menegadahkan tangannya untuk berdo’a dan para sahabatpun juga serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari Bulan Ramadhan.
Disaat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan shalatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk kedalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulullah SAW mengangat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun berhenti seketika.
Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata “Wahai anas bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya. ” Anas pun duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama cerita Rasulullah SAW mengapa beliau begitu lama bersujud. Masya Allah….ternyata ketika tadi Rasulullah SAW, dan disaat hujan mulai turun, disaat itu pula malaikat dibawah pimpinan jibril turun dalam keindahan dan bentuk aslinya. Mereka berbaris rapi dengan suara gemuruh tasbih dan tahmid mereka bergema dilangit dan dibumi serta alam semesta saat itu dipenuhi dengan cahaya ilahi. Inilah yang membuat Rasulullah SAW terpaku menyaksikan keindahan dan cahaya yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata. Gema tasbih dan tahmid malaikat yang tak pernah didengar oleh telinga dan suasana yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.
Itulah lailatul qadar. Tahukah kalian, apakah Lailatul Qadar ?
Lailatul qadar yang sesaat itu lebih baik dari pada seribu bulan. Di malam itu, para malaikat dibawah pimpinan Jibril turun atas izin Allah SWT, mereka menebarkan kedamaian, keselamatan, kesejahteraan dan mengatur segala urusan, mereka menyampaikan salam sampai terbitnya fajar keseluruh semesta alam.
Sekarang Kita sudah hampir mencapai puncak terakhir dari Bulan Ramadhan, dan dipuncaknya kita mendapatkan pembebasan dari api neraka. Pada malam-malam terakhir, para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah SWT kepada para hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman hingga terbitnya fajar, itulah yang dinamakan lailatul qadar, malam yang lebih afdhal daripada seribu malam.
Lailatul Qadar adalah malam kebesaran Allah SWT, malam keagungan-Nya, malam pengampunan-Nya, malam yang dimiliki-Nya untuk memberi maaf kepada para pembuat dosa dan menebarkan kasih sayang kepada para hamba-Nya. Dilangit ada kerajaan sangat besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusia dimuka bumi ini. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi dimalam-malam lailatul qadar. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan taubat para pembuat dosa yang kemudian diampuni segala dosa-dosanya.
Allah SWT berfirman dalam sebuah hadist qudsi: “Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaranKu, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayangKu.”
YA ALLAH… Kami datang mengemis dihadapan pintuMu.
YA ALLAH… Kami datang dengan deraian air mata, merengek dan memohon kasih sayang serta pengampunan-Mu yang begitu luas.
YA ALLAH… Jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan shiam dan qiyamnya, maka siapa lagi yang menyayangi kami yang tenggelam dalam kubangan dosa dan kemaksiatan ini.
YA ALLAH… Jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaatiMu, maka siapa yang akan mengasihi kami yang berlumuran dengan dosa dan maksiat ini.
YA ALLAH… Jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun dalam beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas seperti kami ini.
YA ALLAH… Beruntunglah orang-orang yang berpuasa dengan sebenar-benarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam dengan sebaik-baiknya. Selamatkanlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hambaMu yang hanya bisa berbuat dosa dan maksiat. Sayangilah kami dengan kasihMu. Bebaskanlah kami dari api neraka dengan ampunanMu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih sayangMu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi, sayangilah kami.
YA ALLAH… Tuangkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap gangguan orang-orang kafir, baik itu gangguan dzahir maupun batih.
YA ALLLAH… Janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa dan bersalah.
YA ALLAH… Janganlah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
YA ALLAH… Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang kami tak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau sebenar-benarnya penolong kami.
YA ALLAH… Ampunilah dosa-dosa dan tindakan-tindakan yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian-pendirian kami dalam barisan iman dan islam.
YA ALLAH…Janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Allah, sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
YA ALLAH…Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan, padahal Engkau sudah memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia.
YA ALLAH…Kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat karena Engkau adalah sebaik-baiknya Pemberi Rahmat.
YA ALLAH…Sempurnakanlah cahaya bagi kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
YA ALLAH…Terimalah amalan-amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
YA ALLAH…Sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari dahsyatnya siksaan neraka.
YA ALLAH… Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksaan neraka yang sangat pedih.
YA ALLAH… Jauhkan azab jahanam dari kami, karena sesungguhnya azab itu adalah kebinasaan yang kekal.
YA ALLAH…Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
YA ALLAH…Kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, siapa lagi yang akan memaafkan dan mengampuni kami Ya Allah. Jika tidak ada maaf dan ampunanMu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.
YA ALLAH…Anugrahkanlah kepada kami, istri-istri dan keturunan yang dapat menyenangkan dan menggembirakan hati kami dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang bertakwa.
YA ALLAH…Kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan. Kami telah mengikuti RasulMu Muhammad, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.
YA ALLAH…Kami sadar bahwa amal-amal kami didunia hanya sedikit dan kami selalu menyalahi apa-apa yang telah Engkau tetapkan, akan tetapi janganlah Engkau hinakan kami dari hari kiamat kelak, sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.
YA ALLAH…Ampunilah kami serta kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, anak dan isteri kami dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hari dimana Engkau menghisab semua amal-amal kami selama di dunia.
YA ALLAH…Berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam segala urusan kami.
YA ALLAH…Jadikanlah kami dan keturunan kami sebagai orang-orang yang tetap mendirikan shalat.
YA ALLAH…Dengarkanlah dan kabulkanlah semua do’aku.
Shalawat dan salam selalu tercurahkan atas junjunganMu Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Amin….
Diambil dari BUKU KADO DARI KOTA NABI
PENULIS : HASAN HUSEIN ASSEGAF
PENERBIT: PUSTAKA BASMA
CET:I: JANUARI 2010
Sumber Rabithah Alawiyyah