Rabu, 25 Januari 2012

Mencari ketulusan hati yang hilang

 
 
Ku baca kembali semua tulisanku baik di blog maupun di catatan facebook ku, dari hal-hal yang paling dangkal hingga tulisan yang tak dapat kupahami. Terkenang kembali saat pertama kali aku menulis di blog ini, dan kini ku bertanya pada diriku sendiri “apakah tulisan yang dulu kutulis dengan tinta cinta dan ketulusan kini masih memilik jiwa yang sama?”

Entahlah.
Aku meragu.
Aku sanksi pada semua tulisanku.
Kini, setelah aku mempublish postingan yang tidak penting, maka aku pun menuju chat room untuk berkoar-koar seperti penjual obat untuk menjajakkan dagangannya.
Lantas apa yang kuharapkan?
Dan apa yang kunantikan?
Mungkinkah hanya untuk mendapatkan komentar yang banyak atas tulisan tak berguna yang telah aku posting?
Yah, mungkin seperti itu, karena sebagai manusia aku juga butuh pengakuan agar mereka tahu dan mengakui bahwa ada seorang blogger yang bernama Salga Saputra.
Lagi pula pastilah semua orang ingin terlihat keren dan menjadi terkenal?
Yah, itulah aku sekarang ini, layaknya seorang pengemis yang meminta komentar-komentar dari orang-orang yang lewat di tepi jalan.

Aku memfollow semua blog para blogger MWB, dan menuntut agar mereka memfolow balik blogku.
Aku keliling MWB mengomentari tulisan para sahabat dengan komentar yang tidak berdasar ketulusan hati, semua itu hanya supaya mereka merasa berat hati dan berkunjung balik ke blogku dan mengucapkan kata “nice gan, sangat bermamfaat”meskipun tulisanku tidak bermamfaat sama sekali.
Yah, aku lebih mementingkan kuantitas visitor dan komentar di blogku meskipun itu tidak berdasar atas ketulusan hati, yah aku senang karena itu membuatku congkak dan merasa bang atas semua komentar yang kudapatkan.

Aku telah kehilangan diriku yang dulu.
Tulisanku pun telah kehilangan roh ketulusan yang membuatnya terasa hambar dan tak memberi pemahaman dan arti apapun bagi seorang yang membacanya.

Apakah semua orang telah menjadi sepertiku?
Berkomentar agar mendapakan komentar?
Apakah semua orang melakukan sesuatu hanya untuk sebuah imbalan.
Memfollow agar di follow balik?
Dan mungkinkah semua orang mencintai agar di cintai?
Lantas dimana ketulusan hati itu?
Kemanakah perginya keikhlasan itu.
Dapatkah aku menemukannya kembali?
Atau kah mungkin ia telah hilang di telan jaman dan tak dapat lagi kutemukan di hati manusia bahkan di hatiku sendiri?

Sesaat setelah aku mempertanyakan hal itu , maka muncullah Sang Pangeran (tokoh dalamKisah Cinta Sang Rumput) dan berkata:
“Tidak anakku, ketulusan hati itu tidak hilang, ia hanya bersembunyi dari orang-orang narsis dan egois sepertimu, namun sejatinya ia tetap terpatri di dalam hatimu dan hanya dangan mempersembahkan keangkuhanmu kepadanya maka ia akan kembali lagi memelukmu. Kau harus berusaha untuk melakukan hal itu agar Iblis tidak menyesatkanmu, karena dulu Iblis pernah berkata “ya Tuhanku, oleh karena engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pastilah aku membuat mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pastilah aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”

“Baik paman, aku mengerti nasehatmu,tetapi aku masih ragu apakah aku bisa melakukannya” Jawabku .