Minggu, 04 Maret 2012

Nasib Warga Syiah Suriah dalam Krisis Rekayasa Barat

Suriah adalah sebuah negara di selatan Asia barat dan terletak di pesisir timur Mediterania. Negara ini berbatasan dengan Turki di utara, dengan Irak di timur, dengan Lebanon dan laut Mediterania di Barat, dan dengan Yordania dan Palestina pendudukan di selatan. Oleh karena itu, secara geografis Suriah sangat strategis karena menjadi jembatan penghubung antara Asia dan Eropa.
Sekitar 74 persen populasi Suriah beragama Muslim Ahlussunnah, 13 persen lainnya Alawi dan Syiah Imamiyah atau Ismailiyah. 10 persen warga Suriah beragama Kristen, dan tiga persen sisanya adalah warga etnis Druze.
Krisis berdarah di Suriah sejak tujuh bulan lalu dengan campur tangan tidak langsung Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, dan Perancis di satu sisi, dan disisi lain diprovokasi oleh sejumlah negara regional termasuk Arab Saudi, Yordania, Turki, dan kelompok-kelompok pro-Barat di Lebanon. Krisis dimulai di sebuah kota di Daraa yang mayoritas Sunni, dan sama seperti fenomena politik-keamanan dan sosial lainnya, krisis itu berubah arah menyusul reaksi dari para pemain di dalam dan luar negeri.Namun hingga kini, nasib umat Syiah akibat kerusahan itu tidak diperhatikan. Laporan berikut ini akan mengetengahkan informasi mengenai kondisi kaum Syiah di Suriah.
Syiah di Suriah Menyebar
Sebagian besar warga Syiah Suriah tersebar di lima provinsi yaitu, Damaskus, Homs, Halab, Idlib, dan Daraa. Mereka juga tidak terhindar dari eskalasi krisis dan bentrokan di dalam negeri.
Hubungan Warga Syiah di Homs dengan Masyarakat
Populasi Syiah di Provinsi Homs mencapai 150 ribu orang yang merupakan 10 persen dari total populasi di provinsiitu. Selain di Homs, warga Syiah juga tersebar di berbagi wilayah sekitarnya. Hubungan mereka dengan kaum Sunni bersahabat dan tenang. Para pejabat Provinsi Homs menekankan kebijakan pendekatan antarpengikut agama dan mazhab, serta penghindaran friksi. Faktor berikutnya adalah ketegasan pemerintah pusat dalam menindak anasir penyulut friksi dan ketegangan antarmazhab. Bahkan kerusuhan pada bulan Juli lalu telah memperkokoh persatuan dan keharmonisan warga Syiah dan Sunni.
Faktor-Faktor Perusak Keharmonisan
Namun keharmonisan dan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun itu terkoyak secara tragis. Sebabnya, pertama adalah gerakan dan gejolak mazhab yang meluas di seluruh negara-engara Islam dan yang pada puncaknya muncul pada awal-awal pendudukan Amerika Serikat atas Irak.
Di sisi lain, media massa dan propaganda kelompok radikal Salafi, melalui televisi satelit dan situs-situs juga semakin menjamur. Di suriah penyusupan Salafi dapat dirasakan di sejumlah wilayah. Hal itu diperparah dengan penistaan yang dilakukan oleh media dan situs-situs Syiah esktrim terhadap nilai-nilai suci Ahlussunnah.
Sikap Kaum Syiah di Masa-masa Krisis
Sejak dimulainya krisis Suriah, para tokoh dan ulama Syiah negara ini, mengumukan netaralitas mereka dan tidak akan ikut campur. Karena mereka berpendapat bahwa menentukan dalam transformasi tersebut akan merugikan umat Syiah. Warga Syiah Suriah sendiri berpendapat bahwa sebagai kelompok minoritas, mereka akan menjadi sasaran aksi pembalasan. Akan tetapi di satu sisi, warga Syiah senantiasa mendukung pemerintah pusat.
Warga Syiah Suriah, sangat menjaga dan berhati-hati dalam bersikap, karena jika tidak maka akan muncul bentrokan dan krisis sektarian di negara ini.
Dampak Krisis Terhadap Warga Syiah
Banyak pendemo Suriah yang berpendapat bahwa warga Syiah mendukung pemerintahan yang brutal dalam menindak instabilitas. Mereka memberikan berbagai dalih di antaranya:
1-   Dukungan kuat Republik Islam Iran dan Hizbullah Lebanon terhadap pemerintah Suriah.
2-   Menuding warga Syiah Suriah mendukung pemerintah dan para suporternya dalam menumpas demonstrasi dan ini merupakan tuduhan yang sama terhadap kelompok-kelompok minoritas Suriah.
3-   Provokasi secara terang-terangan anti-Syiah di berbagai situs, televisi satelit, dan bahkan oleh mufti-mufti ekstrim.
Pembunuhan Warga Syiah
Tidak diragukan lagi bahwa hubungan keharmonisan dan kerukunan warga Syiah dan Sunni Suriah, serta berlanjutnya komunikasi antara para ulama dari dua mazhab itu, menjadi penghalang terseretnya instabilitas itu ke arah kerusuhan sektarian dan etnis. Namun hubungan tersebut sudah tidak berguna lagi ketika senjata telah jatuh ke tangan para perusuh.
Setelah itu, dimulailah propaganda anti-Syiah yang dituding terlibat dalam aksi penumpasan warga Syiah. Tidak hanya itu, para ulama ekstrim juga menginstruksikan para pendemo untuk “membersihkan” kota-kota dari keberadaan “kaum Zoroaster” (merujuk pada bahwa pengikut kaum Syiah terbanyak adalah di Iran dan sebelum masuknya Islam, bangsa Iran adalah penganut Zoroaster). Menyusul seruan tersebut, dimulai pula aksi pembunuhan dan penculikan warga Syiah Suriah khususnya para pemuda. Prosesnya cepat dan meluas hingga sejumlah kelompok bersenjata termasuk Brigade Khaled bin Walid, menyatakan bertanggung jawab atas sejumlah operasi anti-warga Syiah.
Akan tetapi ini bukan berarti warga Sunni Suriah setuju atas aksi tersebut, karena banyak kelompok Sunni moderat dan mereka yang menentang segala bentuk kekerasan, menolak aksi brutal itu. Namun suara mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk krisis, terlebih lagi mereka dituding munafik dan menjadi antek-antek pemerintah.
Kerugian dan Penderitaan Warga Syiah
Berikut ini sebagian penderitaan dan kerugian yang dialami warga Syiah Suriah dalam lima bulan kerusuhan:
1-   Dibunuh dan diculik.
2-   Mengungsi dari wilayah mayoritas Sunni, karena menerima bahaya dan ancaman.
3-   Perampokan dan penjarahan, serta pembakaran rumah dan tokok-toko, khususnya yang pemiliknya telah mengungsi.
4-   Kesulitan ekonomi yang diakibatkan karena beberapa faktor. Pertama, pemecatan dari tempat kerja mereka di sektor swasta. Kedua, sebagian besar warga Syiah tidak dapat kembali bekerja setelah sejumlah rekan mereka terbunuh. Dan ketiga, lemahnya perekonomian lokal karena kerusuhan dan instabilitas. (DarutTaqrib/IRIB Indonesia/sa)